Logo SantriDigital

ngaji remaja masjid

Khutbah Jumat
A
abdul rasyid
6 Mei 2026 5 menit baca 2 views

أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ...

أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hari ini, di hari Jumat yang penuh berkah ini, kita semua dikumpulkan kembali di rumah-Nya. Tentu saja, ini bukan kebetulan semata, melainkan panggilan dari-Nya. Namun, di tengah kesibukan dunia yang tiada habisnya, seringkali kita lupa. Lupa bahwa kita ini hanyalah seorang tamu di dunia ini, dan kehidupan ini sebenarnya adalah "proyek" sementara. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Kita seringkali mendengar, bahkan mungkin terkadang bosan mendengarnya, tentang “ngaji remaja masjid”. Aduh, kalau dengar kata “ngaji”, ada yang langsung membayangkan belajar kitab tua, menghafal ayat, terus ada soal-soal agama yang bikin kepala pusing tujuh keliling, ya kan? Mirip kayak ujian matematika zaman kita sekolah dulu, angkanya lari-lari nggak karuan. Tapi, pernahkah kita mengaitkan "ngaji" ini sama "remaja masjid"? Nah, ini yang menarik. Kebanyakan orang tua kita mungkin berpikir, "Wah, kalau sudah remaja, pasti sudah pintar cari uang, cari pasangan, sudah besar. Ngap cerita lagi soal ngaji?" Padahal, justru di usia remaja inilah masa-masa paling penting untuk "mengaji" dalam arti sebenarnya. Mengaji itu bukan cuma bacaan Al-Qur'an, tapi juga *mengerti*, *memahami*, dan *mengamalkan*. Sama seperti kita belajar nyetir mobil, kalau cuma *tahu* pedal gas di mana dan rem di mana, tapi nggak pernah *latihan*, ya ujung-ujungnya nabrak tembok, bapak-bapak! Atau kayak kita dikasih resep masakan terenak sedunia, tapi cuma dibaca, nggak pernah dipraktikkan bikin nasi goreng, ya perut tetap keroncongan, kan? Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an: "وَلَـٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ" *(Tetapi jadilah kamu sekalian Rabbaniyyin, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu mempelajarinya).* (QS. Ali 'Imran: 79) Kata Rabbaniyyin ini bukan cuma sekedar pintar menghafal ayat atau tahu hukum ini itu. Tapi, menjadi orang yang mumpuni, yang mengerti agama secara mendalam, yang bisa membimbing orang lain. Nah, kalau resep belajar agama itu cuma dibaca sama anak remaja, terus nggak pernah dijelasin sama yang lebih paham, nanti hasilnya jadi aneh. Kayak orang bikin kopi, gulanya kebanyakan, malah jadi minuman manis yang mau diminum tapi bikin sakit gigi! Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Zaman sekarang ini, masya Allah, luar biasa. Di ujung jari kita ada internet, ada *gadget* yang bisa ngasih informasi apa aja. Mau tahu cara main *game* terbaru? Ada. Mau tahu cara bikin TikTok viral? Ada. Tapi giliran mau tahu cara sholat yang benar, cara baca Al-Qur'an yang fasih, cara jadi pribadi yang disayang Allah? Wah, kok jadi mendadak malas ya? Kayak ada virus malas yang nyerang *handphone* sekaligus otak kita. Padahal, ilmu agama ini adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Bukan sekadar *ilmu*, tapi *nur* (cahaya) yang menerangi jalan kita. Rasulullah SAW bersabda: "مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ" *(Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga).* (HR. Muslim) Bayangkan, cuma cari ilmu, Allah sudah siapin jalan ke surga. Enak kan? Kayak kita mau ke mal, terus dikasih peta gratis yang langsung nunjukin jalan tercepat dan nggak macet. Tapi kalau kita hanya sibuk mencari jalan menuju *game* terbaru atau cara mendapatkan *like* terbanyak, nah itu peta menuju jalan yang berliku-liku, bahkan bisa jadi buntu, bapak-bapak, ibu-ibu sekalian. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Dan yang lebih penting lagi dari sekadar *tahu* adalah *merasa*. Merasa dekat dengan Allah. Merasa takut kepada-Nya. Merasa cinta kepada-Nya. Bagaimana kita bisa merasa takut dan cinta kepada Allah, kalau kita tidak kenal siapa Allah? Kita seringkali jatuh cinta pada idola yang jauh di sana, yang hanya kita lihat di layar kaca, padahal kita nggak pernah kenal sifat aslinya, nggak tahu dia lagi makan apa, tidurnya jam berapa. Tapi sama Allah yang menciptakan kita, memberikan napas kita, memberikan segalanya, kok malah cuek bebek? Kayak pacaran sama orang, tapi nggak pernah diajak ngobrol, nggak pernah diajak jalan, cuma dikasih pulsa doang. Hahaha. Ingatlah, dunia ini hanyalah tempat singgah, seperti stasiun kereta. Kita datang, kita turun, kita naik lagi, terus pergi. Kalau kita kebanyakan main di stasiunnya, nanti ketinggalan kereta yang sebenarnya. Kereta menuju akhirat. Di sana nanti, kita akan ditanya. Ditanya soal waktu kita, soal harta kita, soal ilmu kita. Jangan sampai kita ditanya, "Waktu muda kamu lebih banyak dihabiskan untuk apa?" Jawabannya, "Bermain *game* dan *scrolling* medsos, Ya Allah." Wah, bisa jadi kita malah dikasih tiket kereta eksekutif menuju neraka, nauzubzubillah min dzalik. Allah Ta'ala berfirman: "أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ" *(Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu tanpa ada tujuan yaitu untuk bermain-main saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami).* (QS. Al Mu'minun: 115) Jadi, "ngaji remaja masjid" itu bukan cuma kewajiban guru ngaji atau orang tua. Ini tentang diri kita sendiri. Ini tentang masa depan kita. Kalau kita tidak "mengaji" diri sendiri sekarang, siapa lagi? Nanti kalau sudah tua, mau ngaji, mata sudah burem, lutut sudah keinjek, mau ke masjid jalan kaki udah ngos-ngosan. Jangan sampai kita seperti orang yang menunda-nunda pekerjaan, baru panik saat waktu sudah habis. Ibarat kita dikasih bibit pohon mangga, kalau disemai sekarang, dirawat, disiram, nanti bisa menikmati manisnya buah mangga. Tapi kalau bibitnya dibiarin aja jadi remah-remah roti, ya nggak akan ada buah yang dihasilkan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Ayolah, kita manfaatkan masa muda kita ini. Masa di mana kita punya energi, punya semangat, punya waktu. Jadikan masjid bukan hanya tempat sholat Jumat, tapi juga tempat *ngaji*. Tempat belajar. Tempat bergaul dengan orang-orang soleh. Jadikan diri kita sebagai remaja yang cerdas secara akademis, tapi juga cerdas secara spiritual. Yang punya *skill* dunia, tapi juga punya *bekal* akhirat. Jangan sampai umur panjang yang diberi Allah kita sia-siakan hanya dengan tawa dan hiburan semata. Karena tawa yang berlebihan itu seperti hujan di musim kemarau, kadang enak, tapi kalau kelamaan bikin kering kerontang. Biarkan tangisan kita ini bukan karena lagu sedih, tapi karena kesadaran diri kita yang semakin dekat dengan Allah. Biarkan rasa takut kita bukan karena razia polisi, tapi karena takut murka Allah. Biarkan harapan kita bukan karena undian berhadiah, tapi karena harapan rahmat Allah. Marilah kita mulai "ngaji" dari diri sendiri, dari keluarga kita, dari lingkungan kita. Insya Allah, dengan begitu, kita akan menjadi generasi yang diridhai Allah, generasi yang membawa cahaya, bukan generasi yang tersesat dalam kegelapan dunia. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →